Sekarang kembali ke masalah awal. Pada hari ini kami berencana akan mengunjungi semua tempat yang pernah kami kunjungi dalam tiga tahun masa pacaran. Kata Ferdi, ia mau bernostalgia tentang semua kejadian yang kami lewati selama tiga tahun ini. Ide itu sangat bagus. Tapiiii, ia memulainya dengan cara terlambat begitu lama? Aku terus menerus melihat jam sambil menunggunya. Bahkan sampai detik-detiknya pun kuperhatikan. You see?
"Apakah aku akan di hukum?," ucapnya sambil tersenyum riang.
"Tidak ada untungnya bagiku," jawabku yang lebih kedengaran seperti suara orang ngambek daripada marah.
Oh, Tuhan, kenapa aku tak bisa marah padanya? Marah beneran.
Aku membalikkan badanku dan melangkah pergi. Ferdi jadi kalang kabut dan mencekal bahuku dengan cepat.
"Hei, aduh... Villeni. Kau benar-benar marah ya?" ucapnya dengan nada cemas. Kemudian ia melanjutkan.
"Oke, kalau gitu, bagaimana kalau hari ini aku akan mentraktir semuanya yang kau minta. Mau kan?" bujuknya.
Sedikit keterangan deh. Selama kami pacaran, aku tak pernah mau di traktir oleh Ferdi. Meski ia memaksa bagaimanapun juga.
"Tidak perlu." Kusapu tangannya dari bahuku. Aku berusaha melangkah lagi...
Dan aku tidak memijak apapun...
Tangga!! Pekikku dalam hati. Kami berjanji bertemu di Vihara ini. Dan untuk mencapainya, harus menaiki 49 anak tangga kecil. Dan aku tidak menyadarinya sehingga keseimbanganku kacau.
Lalu...
* * *
Rumah sakit.
Disanalah aku berada sekarang. Duduk dengan tangisan penyesalan dan badan yang bergetar karena isak. Kemudian dua sosok tubuh datang dengan tergesa-gesa.
Aku mengenali mereka. Orang tua Ferdi. Mereka datang setelah mendengar apa yang kukatakan di telepon.
"Tante, om..." panggilku.
"Dimana Ferdi nak," tanya mereka dengan nada cemas.
Aku menunjukkan ruang gawat darurat dengan tangan bergetar, kemudian langsung bersujud dihadapan mereka.
"Maaf kan aku tante, om. Maafkan aku.." tangisku di kaki mereka.
Ibu Ferdi mengangkatku dengan hati-hati.
"Sudahlah nak. Sudahlah..." Ia memelukku di dekapannya sambil berusaha menenangkan aku. Padahal aku tahu bahwa ia sendiri dalam keadaan sangat cemas.
"Aku bersalah. Aku... Ferdi menarik aku saat aku hampir jatuh. Gara-gara aku, Ferdi jatuh dari tangga. Ia jatuh... jatuh..." ucapku tersendat-sendat dengan kesedihan yang menyesakkan.
"Ia jatuh... Ferdi mengeluarkan darah. Ia mengeluarkan darah. Darah... Kepalanya terus mengucurkan darah... Aku... Aku tak tahu... Aku..." Ucapanku terdengar seperti orang ling lung. Ya, aku tak bisa memikirkan apapun lagi. Aku bingung. Dalam benakku terus berputar kejadian tragis itu. Jeritannya... suara jatuh... kepala yang berdarah... Ferdi terkapar... Semua itu bermunculan silih berganti dan membuatku hampir gila.
"Bukan salahmu. Itu kecelakaan. Semua sudah di gariskan. Tenanglah nak. Tenang," bujuknya sambil membelai kepalaku. Belaian itu justru membuat tangisku semakin memilukan.
Dan dalam hatiku, aku menjerit sampai aku tak bisa mendengarkan apapun lagi...
To be continued to part 2 . Wait and see guys :)
regards,
sannsan.