Aku membuka pintu kamar rumah sakit dimana Ferdi dirawat. Pandanganku menuju ke arah seorang pemuda yang berdiri memandang ke luar di tepi jendela. Cahaya hangat matahari membiasi seluruh tubuhnya. Ferdi memandang ke luar dengan ekspresi yang begitu tenang. Ekspresi yang tak pernah kulihat sekalipun selama ini. Kemudian ia menoleh kepadaku, sesaat setelah aku menutup pintu.
"Ah, kau sudah datang. Maaf, aku melamun," ucapnya ramah dan suaranya tenang.
Maaf...? Ulangku pedih dalam hati.
Beberapa saat tidak terdengar suara.
"Kau memikirkan sesuatu?" ucapnya menyadarkanku.
"Ah.. eh. Tidak. Aku membawakanmu buah-buahan nih," ucapku sambil menunjukkan kantong plastik putih yang kubawa.
"Kau selalu membawa sekantong plastik penuh buah-buahan setiap kali kau datang. Aku jadi merasa tak enak karena merepotkanmu. Tapi, bagaimanapun juga, thanks," ia tersenyum ramah.
Ferdi selalu tersenyum. Pada saat bagaimanapun dan dimanapun, ia selalu tersenyum. Tapi ini berbeda. Segala sesuatunya telah berbeda. Senyum itu bukan senyum Ferdi yang selalu kulihat. Ferdi selalu tersenyum riang dan ceria. Sedangkan pemuda di hadapanku ini tersenyum ramah dan lembut.
Aku masih ingat, apa kata dokter setelah keluar dari ruang gawat darurat. Ia menggeleng-gelengkan kepala dan berkata sambil mendesahkan nafas.
"Lukanya tak seberapa parah. Jiwanya pun tak berada dalam bahaya. Hanya... syaraf dikepalanya mengalami gangguan sehingga akan ada perubahan cara kerja dari otaknya. Dengan kata lain, ... dia akan melupakan semuanya. Keadaanya akan seperti orang yang hilang ingatan. Ia tidak akan bisa mengingat siapapun, dan apapun di masa lalunya."
Tidak bisa mengingat apapun. Itulah yang terjadi. Ferdi bahkan melupakan kata-kata. Ia tidak bisa berbicara selama beberapa hari. Sekarang ia sudah bisa mengingat semua kata-kata. Tapi ia belum bisa mengingat ayah dan ibunya. Termasuk aku.
Ia tidak ingat namaku. Ia tidak ingat bahwa aku adalah orang yang dia cintai. Ia tak ingat satupun kenangan manis yang telah kami lewati. Dan yang terakhir, ia telah berubah menjadi orang lain.
Aku meletakkan kantong plastik itu di atas meja kecil di samping tempat tidur. Bunga mawar di dalam vas tampak utuh dan segar. Bunga mawar yang kubawa kemarin, dengan tujuan untuk mencoba Ferdi. Sekaligus untuk meyakinkan diriku.
Aku sengaja membelinya untuk Ferdi. Mencoba apakah ia ingat dengan apa yang selalu di lakukan pada bunga itu kala dulu. Ferdi paling suka mempreteli bunga mawar. Entah itu membuang semua duri yang ada di batangnya yang kemudian dia persembahkan padaku. Ataupun merontokkan mahkotanya lalu menyiramku dengan itu. Memandikanku dengan mahkota merah itu lalu memelukku dalam dekapannya.
Tapi... bunga mawar di vas itu utuh tanpa terganggu. Masih tetap bunga mawar dengan seutuhnya. Sekaligus mengingatkanku bahwa aku telah menghilangkan sesosok pemuda yang sangat riang dan ceria. Sosok Ferdi yang dulu yang selalu nakal dan tak bisa diam. Yang penuh dengan ide mengejutkan dan tindakan gila. Namun semua orang menyanginya.
Semua orang menyukai kehadirannya serta tingkah lakunya yang memancing tawa dan bahagia.
Aku menghilangkannya.
aku menghilangkan Ferdi.
Pandanganku mengabur karena air mata yang menghalang. Cepat-cepat kuhapus mataku yang basah, lalu melihat Ferdi, berharap Ferdi tak melihatnya.
Ferdi masih belum beranjak dari bibir jendela. Ia memandang keluar sambil membisu. Ada sirat kesedihan dalam wajah itu.
Entah sudah berapa malam kulalui dengan tangis yang tertahan, tangis tanpa suara. Aku menangis setiap aku menyadari bahwa Ferdi yang sekarang... bukanlah Ferdi yang dulu. Begitu banyak perubahan yang terjadi pada Ferdi. Begitu banyak yang berubah. Dan itu semua karena dia bukan lah Ferdi.
Ucapannya yang ramah, suaranya yang tenang, pandangannya yang teduh, ekspresi-ekspresi wajahnya yang belum pernah kulihat. Semua itu tak ada pada Ferdi selama ini.
Dia adalah orang lain.
Setelah beberapa lama terjadi kebisuan, aku menghampiri jendela dan berdiri disampingnya sambil memandang keluar.
Dari jendela tingkat 4 itu, aku dapat melihat halaman rumah sakit yang luas dan dipenuhi dengan daun yang gugur dari pohon besar yang tumbuh di tepi jalan. Orang-orang tampak lalu lalang di trotoar, ada yang berkelompok, ada juga yang sendirian. Kendaraan yang lewat hanya sedikit, karena rumah sakit ini jauh dari keramaian. Di seberang jalan terdapat taman kecil dimana sekelompok anak bermain kejar-kejaran. Pada bangku taman, sekelompok ibu-ibu sedang berbincang-bincang sambil mengawasi anak mereka bermain dari jauh.
"Apa yang sedang kau lihat?"tanyaku untuk membuka percakapan.
"Semuanya," katanya singkat.
"Semua yang ada diluar sana." Dalam suaranya ada nada kesepian yang sangat.
Barulah saat itu aku menyadari. Ferdi tak ingat siapa dia. Ia tak kenal dengan siapapun dan tak tahu kenapa ia berada disana. Ia tentu merasa seperti orang asing diantara ayah ibunya dan aku. Tiba-tiba sebuah pikiran melintas di benakku. Dan aku bertanya padanya.
"Kau ingin ke luar?"
* * *
Aku membawa Ferdi ke sebuah taman. Taman itu khusus untuk orang yang ingin berpacaran. Taman yang pernah kami kunjungi beberapa kali untuk membicarakan bagaimana pertama kali kami bertemu. Tentang bagaimana ia mulai menyukaiku dan bagaimana pula ia sering salah tingkah kalau aku berada di dekatnya. Taman itu adalah tempat dimana kami saling mengeluarkan isi hati kami masing-masing. Dan tempat ini juga adalah tempat pertama kalinya Ferdi menciumku.
Tiba-tiba aku tertawa sendiri.
"Ada apa, kelihatannya ada yang lucu?" tanyanya. Aku berusaha menghentikan tertawa geliku sambil berkata.
"Kau masih ingat, pertama kali kau ingin meng-kiss ku disini. Ah.. beberapa kali kita tidak jadi karena banyak gangguan.
Entah itu orang lewat, atau karena kita tiba-tiba tertawa, dan juga karena suara kasak kusuk dari semak yang rupanya adalah kucing kesasar.
Oh ya, dan juga tingkahmu setelah melakukan itu. Kau..." ucapanku terhenti setelah mataku beradu pandang dengan matanya.
Dalam sekejap pula senyum di wajahku menghilang.
Ferdi tampak kebingungan.
"Maaf, aku... tak ingat," ucapnya sedih.
Aku tak berkata apa-apa. Lalu kutarik tangannya dan kutuntun ke danau dimana banyak terlihat sepeda air yang simpang siur.
"Ayo kita naik," bujukku.
Kami menyewa satu sepeda air, lalu bergerak sampai ke tengah danau.
Air danau itu jernih dan segar. Walaupun danau ini dalam, tapi kalau kita melihat dengan sedikit cermat, kita dapat meilhat dasar danau yang dipenuhi dengan tanaman air dan berbagai jenis ikan berwarna-warni yang berenang berkelompok. Satu hal yang aneh adalah, meskipun matahari bersinar dengan terik, air danau itu tetap dingin tanpa ada sedikit pun perubahan suhu.
"Kau tahu, di danau ini ada legenda tersendiri," kataku.
"Oh ya? Legenda apa?" tanyanya.
"Legenda tentang ikan mutiara emas. Bentuknya seperti ikan koi, tapi ia mempunyai ekor yang panjang dan indah. Seluruh tubuhnya bersinar seperti emas dan konon, pasangan mana yang melihatnya kelak akan dilahirkan ribuan kali sebagai sepasang kekasih."
"Legenda yang indah," ucapnya tulus.
"Tapi apakah ada yang pernah melihatnya?" tanyanya kemudian.
Aku membisu untuk beberapa hela nafas. Kemudian dengan berat mengatakan "Tidak. Belum pernah."
Kemudian sesaat aku seperti melihat Ferdi ingin mengucapkan sesuatu, tapi aku kurang yakin.
Dia tak ingat, ucapku dalam hati. Dia sama sekali tak bisa mengingat kejadian yang menggemparkan yang pernah kami alami disini.
Kira-kira satu setengah tahun yang lalu. Saat aku dan dia di atas sepeda air seperti sekarang, secara tak sengaja, topi yang kupakai jatuh ke air. Saat Ferdi ingin mengambilnya, ikan itu lewat, tepat di bawah topiku. Ferdi dan aku melihatnya. Ikan mutiara emas berekor panjang bak selendang bidadari. Tubuhnya memantulkan sinar matahari dengan sisik emasnya.
Ferdi begitu takjub melihat ikan itu, sampai-sampai ia jatuh ke air dan membuat semua orang melihat. Saat Ferdi keluar dari air, ikan itu sudah menghilang. Karena ingin melihatnya lagi, Ferdi sampai-sampai menyelam dalam air untuk mencari ikan itu. Tapi ikan itu sudah menghilang tanpa jejak.
Gara-gara jatuh ke dalam air danau yang dingin, Ferdi sampai demam selama tiga hari. Tentang ikan mutiara emas itu,
kami tak memberitahukan pada siapapun. Alasan pertama yaitu, siapa yang percaya?.
Kedua karena kami ingin membiarkan itu menjadi rahasia yang khusus untuk kami berdua.
To Be Continued ..
Temann maaf ya kalo misalnya pake part2 an,
soalnya panjang critanya haha :p
thanks for reading.
sannsan :)